Postingan

🍧Cheeky Icy Thang 🧊

Gambar
Assalamu’alaikum, Folks! Sudah setahun lebih kita tidak bersua. Lebih tepatnya aku yang tidak menyempatkan dan meniatkan diri untuk menyentuh blog ini, sih. Sebelumnya aku berpikir, kalau blog ini akan diperbaharui nantinya, maka yang boleh muncul sebagai konten adalah unggahan-unggahan serius. Hitung-hitung portfolio menulis hehe. Akan tetapi aku berpikir lagi, Hey, awalnya aku membuat blog ini, kan sebagai wadah menuangkan pikiran. Kalau fungsi awalnya jadi tidak terpenuhi akibat perfeksionisme yang menahanku untuk menulis, bukankah lebih baik aku melonggarkan sedikit idealismeku? Oleh karena itu, aku memutuskan untuk menulis hal-hal yang memang ingin kuceritakan, terutama yang membuatku bahagia, karena kalau kuamati lagi unggahan-unggahanku yang lalu, kok, rasanya aku negatif sekali ya? Padahal banyak berkah dan pelajaran hidup yang mengubah mindset serta menghangatkan hatiku di setiap langkah yang kuambil untuk menyusuri hidup ini. Ada kejadian-kejadian penting juga yang terlewa...

Bisakah Kita Bersimpati Pada Seseorang Tanpa Menyetujui Tindakannya?

Aku selalu berpikir kalau perasaan dan logika tidak perlu sejalan. Aku bisa merasa kasihan pada seseorang yang kesusahan, tapi tidak bisa memaklumi tindakannya merampok. Opiniku bisa berubah sepanjang waktu, kecuali untuk hal-hal yang memang tidak sejalan dengan prinsipku seperti pelacuran, LGBT, bunuh diri, dsb ( agree to disagree ya, tidak ada paksaan untuk beropini sama sepertiku). Lalu aku mulai berpikir, cerita kan disampaikan untuk memberitahu kondisi dari sisi penutur dan penutur pasti berharap agar orang mau memahami dirinya – lebih bagus lagi kalau mendukung tindakannya. Apakah adil ketika seseorang sudah menjelaskan kisahnya dan kita kekeuh tidak setuju dengan tindakannya? Apalagi ada kutipan yang bilang, “orang-orang yang hobi membaca adalah orang yang paling toleran sebab mereka melihat banyak perspektif.” Sampai sejauh mana “toleran” yang dimaksud ini? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul setelah aku membaca kisah seorang istri yang mendukung keputusan suaminya untuk bunuh di...

Jika Tak Memiliki Bakat Menulis, Untuk Apa Mengangkat Pena? (2)

Irsan, salah satu bestie kuliahku, pernah menyatakan kalau aku punya pandangan nihilisme. Penyebabnya adalah kala itu aku sedang di titik rendah dan kubilang, “Setiap manusia itu hidup karena menyumbangkan sesuatu pada takdir kan? Kalau kita tidak bisa menjadi orang yang penting atau memiliki arti dalam hidup, eksistensi yang dibutuhkan banyak orang, apa gunanya kita hidup? Kalau posisi kita sebegitu mudahnya digantikan orang lain, enggak akan menjadi masalah kalau kita menghilang dong? Toh, kita hidup di dunia juga demi diri kita sendiri, mengumpulkan bekal untuk persiapan hidup di akhirat nanti dan bukan demi orang lain. Kalau aku enggak punya manfaat apapun di suatu tempat, bukankah lebih baik segera pergi supaya orang yang lebih baik bisa menggantikanku? Kalau aku tidak berguna, untuk apa aku hidup?” Wow, krisis eksistensial. Sepertinya saat itu aku sedang marah karena merasa tidak berguna. Saat itu – sampai sekarang sebenarnya – aku sangat membutuhkan validasi, karena hanya dari v...

Jika Tak Memiliki Bakat Menulis, Untuk Apa Mengangkat Pena? (1)

Saat masih kecil, kukira aku bisa hidup dari bergantung pada kemampuan menulisku. Cita-citaku menjadi penulis karena aku ingin menyampaikan kisah-kisah yang bisa mengaduk emosi pembaca. Sedikit iseng, aku malah berkeinginan membuat karakter yang akan disayangi pembaca lalu karakter tersebut akan kukirim ke akhirat setelah para pembaca sudah jatuh hati. Itu skema ‘jahat’ awalku. Akan tetapi, semakin aku beranjak dewasa, aku mulai kehilangan arah dalam melangkah. Salah satunya adalah dalam hal tulis menulis. Berhubung unggahan ini bukan artikel terstruktur, mari kita ngalor-ngidul sedikit. Kemarin malam, aku menelepon Afifah, salah satu bestie kuliahku. Aku mencurahkan kegalauanku padanya. Kubilang kalau aku tidak tahu sebenarnya aku ditakdirkan untuk jalan hidup yang seperti apa. Pikiran tersebut terlintas kala aku menemukan akun media sosial anak-anak muda yang bisa melanglang buana kemana saja. Anak-anak muda ini bersekolah di luar negeri atau mendapatkan pekerjaan keren (mungkin ra...

Life Updates

Gambar
 Assalamu’alaikum, Folks! Walaupun rasanya sudah lama banget aku enggak mengurus blog ini, ternyata pada tahun 2021 saja aku sampai mengunggah lima postingan! Memang tidak rutin, sih, tapi cukup mengejutkan karena kukira Cheapmangoes sudah terbengkalai hehe. Sebenarnya sejak pertama kali membuat blog sejak tahun 2017, aku rajin menulis konten setiap tahunnya. Akan tetapi, banyak unggahan yang sudah kuhapus karena terlalu sentimental, vulnerable, dan miserable . Terutama postingan di tahun 2019 – tahun saat aku mengalami kecemasan parah yang mengganggu aktivitas organisasiku – dan tahun 2020 – pergulatanku dengan skripsi. Aku sudah punya reputasi sebagai si cengeng, bisa tambah parah imejku kalau cerita mewek turut menghiasi laman blog. Pada tahun 2021 sebenarnya aku punya beragam ambisi dan visi untuk Cheapmangoes, seperti menjadikannya blog yang khusus membahas literasi, gaya hidup, bahkan tempatku menuangkan opini-opini serius yang kumaksudkan untuk dibaca orang. Hanya saja s...

Skripsi

Ketika mencari narasumber untuk keperluan skripsi, aku belajar bahwa penolakan bukan kegagalan, tapi belokan tajam menuju tujuan akhir. Kalau aku tidak memulai karena takut salah, aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di garis finish . Tidak ada satupun narasumber di skripsi finalku yang sesuai dengan daftar yang kurencanakan di awal. Walaupun begitu bukan berarti skripsiku gagal. Apa yang kuinginkan tapi tidak kudapat ternyata diganti dengan yang lebih baik di akhir. Narasumber yang menolak diwawancarai karena merasa tidak sesuai dengan topik skripsiku turut memberikan rekomendasi dan mengarahkan siapa yang lebih cocok. Dari pengalaman tersebut aku belajar bahwa jangan sampai rasa khawatir menghalangi langkah kita. Seiring dengan perjalanan yang kita tempuh, akan ada banyak rintangan dan tidak jarang hambatan yang memaksa kita untuk merombak rute awal. Pada akhirnya semua kesulitan itu, yang mungkin pada saat terjadi nampak hanya merugikan dan tiada manfaatnya, akan mengantarkan kit...

Don't Take Things Too Personally

Sehabis nonton video Anna Akana yang judulnya "How to Not Care What People Think", aku teringat satu contoh konkret seseorang yang projecting banget di media sosial. Projecting yang kupahami dan kugunakan di sini adalah ketika seseorang memproyeksikan dirinya sendiri, pengalaman pribadi atau bahkan ketidaksukaannya pada suatu aspek dalam dirinya sendiri (yang sebenarnya tidak ia sadari) ke pernyataan atau sikap orang lain. Hasilnya dia akan merasa dirinya diserang oleh pernyataan dan sikap tersebut walaupun maksud orang lain tidak demikian. Seringnya projecting ini enggak begitu kelihatan atau disadari oleh orang lain. Tapi dalam kasus satu ini, projecting -nya jelas terlihat karena suatu pihak merasa tersinggung terhadap suatu pernyataan yang sebenarnya kalau ditelaah secara objektif juga tidak begitu nyambung (menurutku). Suatu akun publik mengunggah tulisan yang isinya mengingatkan supaya kita hati-hati ketika ingin melabeli sesuatu sebagai hal yang " toxic ." Te...

Review Webtoon: The Real Lesson, Jalan Tengah Hukuman Fisik pada Murid

Gambar
  REVIEW WEBTOON: THE REAL LESSON Banner Webtoon The Real Lesson Topik mengenai kekerasan dalam dunia pendidikan, terutama yang dilakukan oleh pendidik terhadap siswa, sering menjadi perbincangan yang menghasilkan pihak pro dan kontra. Berhubungan dengan topik tersebut, aku ingin merekomendasikan sekaligus membahas webtoon berjudul The Real Lesson . (Perlu diingat bahwa saat reviewer menulis ini, The Real Lesson baru mencapai episode 16). The Real Lesson adalah terbitan terbaru YLAB (yang nerbitin Study Group dan webtoon-webtoon bertema aksi) dan ditulis oleh Chae Yongtaek (penulis Reawaken Man ). Sinopsisnya berbunyi, " Setelah undang-undang larangan memukul para siswa disahkan, semakin banyak siswa yang seperti preman. Suatu hari, seorang laki-laki yang kuat muncul dan menghajar para preman sekolah tersebut. Sebenarnya siapa laki-laki itu?!” Di episode 1 diberikan prolog yang memberi gambaran dari situasi latar cerita. Prolognya akan kutulis untuk membantu mereka yang b...

Peran Ayah Menurutku...

Gambar
  Banyak obrolan tentang betapa pentingnya peran seorang ibu dalam membentuk anak. Topik tentang peran ayah termasuk jarang mampir ke telingaku, mungkin akunya yang kurang mengulik atau memang ini tema yang cukup terpinggirkan. Setelah berpikir beberapa saat, inilah kesimpulan sederhanaku tentang salah satu andil ayah dalam pembentukan karakter anak, terutama dalam membangun masyarakat yang menghargai dan menghormati perempuan.

Menerima Bahwa Aku Bukan Teman Curhat Pemberi Solusi Tepat

Salah satu teman dekatku, Isti, pernah bilang kalau aku dan Afifah cocok didatangi ketika seseorang ingin curhat dan mendapat dukungan atau dibesarkan hatinya. Kalau ingin curhat untuk mendapatkan solusi permasalahan, maka Denintalah orang yang tepat. Aku belum sadar saat itu, namun sepertinya aku tidak terima dengan penilaian tersebut (biarpun pernyataannya memang benar hehe). Menurutku, seseorang yang bagus untuk dicurhati adalah pendengar yang baik, support system yang bisa diandalkan, dan bisa memberikan solusi serta saran mumpuni. Mulai lagi deh, kebiasaanku yang menuntut terlalu tinggi. Sejak saat itu, setiap kali orang datang untuk curhat padaku, aku selalu mencoba mempersiapkan diri sebaik mungkin layaknya orang yang berprofesi jadi konsultan. Aku bertekad untuk mencari celah dari permasalahan yang dibawa setiap teman curhat dan menawarkan saran yang bisa membantu mereka. Aku baru sadar pas menulis ini, tapi kalau begitu niatku jadi tidak murni untuk membantu teman ya. Aku ...

A Week of Appreciations

This week I've got two encouragements that come from my kind college friends. The encouragements take form in appreciation and confession. One of my friend, Grace, told me that I inspire her due to my friendly demeanor and how I like to greet people. I'm happy to hear that because to be honest I've never really thought about that habit. My other friend, Rafidha, who is also the current editor-in-chief of Stairmagz (along with Nadya) said that she enjoyed reading my review of The Handmaid's Tale so much. She added that the opening and closing sentence of my review is good, one that she would remember whenever she heard the book title. I feel shy and flattered at the same time because I've never felt like my writing is out of ordinary. To be honest, I still take notes from other people's writings. In the process of writing the said review, I also read and learned how people usually write reviews. I also use Grammarly to make sure I don't mix up weird statement...

Instastory of Me and Instagram

Gambar
I feel like the bad effects of Instagram has taken a toll on me. I have so many photos that I love, but those photos are too simple or too uninteresting to be posted on the platform who breaks the barrier and obstacle for people to showcase every good things they have. And trust me, I myself feels happy for them too. But, as a sensitive and overthinking creature, sometimes people’s success reminds me of my “failure”. And that “failure” is actually not a real failure because I failed nothing . It just happens that whenever I see people reach their goals, I feel like I haven’t achieved something. Or if I have, that thing is mediocre compared to other people’s achievements. Such an irony, for I try to remind myself over and over again that other people’s success doesn’t mean my failure. Damn, we are not even in the same competition or the same track, or even in the same field! I don’t know if other people feel the same way as me. But, when I think about it, I’m too ashamed to talk about...

ESENSI PORANG

Gambar
PORANG. Kata satu ini pasti enggak asing bagi para penghuni jurusan Hubungan Internasional Unpad. Baik mahasiswa maupun dosen-dosennya. Porang adalah singkatan dari Pekan Olahraga Angkatan, sebuah ajang lomba antar angkatan di HI Unpad, baik angkatan paling baru –alias maba- sampai angkatan yang sudah jadi alumni. Biarpun disebut “pekan”, Porang berlangsung selama dua bulan. Kesannya acara ini semacam perlombaan menyambut pentas seni. Apalagi setelah Porang selesai, disusul juga dengan makrab. Apa yang spesial dari Porang? Yang jadi panitianya adalah para mahasiswa baru, angkatan termuda dari keluarga besar HI Unpad. Di masaku, Porang baru saja berakhir di bulan Mei semester dua setelah berminggu-minggu menguras fisik dan pikiran para panitianya. Terutama panitia inti dan divisi-divisi yang disebut “segitiga setan”, yaitu divisi acara, humas, dan LO (Liason Officers) . Banyak sekali perdebatan yang berputar di antara kami selaku panitia Porang 2017. Enggak sedikit yang mengeluh kar...

Between Flashing Light and Real Talk

Gambar
Disclaimer: This post was written back when the writer was 18 years old. There is no guarantee that all of the opinions written here are still true to this day. Let’s say, I’m still in the middle of UAS –last term test? I don’t know what it is called in english though. That being said, I have no power to write anything with satisfying quality. But I am fond of the newest public service announcement (last time I checked, it’s basically translated as Iklan Layanan Masyarakat). I think it’s from Singapore. Please correct me if I’m wrong. The thing that makes me want to nod in agreement is, I’d be totally verily okay if people take time to admonish me kindly if I ever forgot to pay attention around. Hello, I’m a mere human whose sensitivity should be questioned since I often lost in my world –not in my gadget (bruh, playing with your gadget in public place is dangerous). What is not okay is, if I make a mistake and instead of warn me, people go as far as snap my picture and then post in...